Bisnis Pemotretan Pernikah

Di tengah lesunya kondisi ekonomi Indonesia dan daya beli yang melemah, bisnis pemotretan pranikah justru melaju kencang. Hal ini dibuktikan dari tingginya permintaan pemotretan di dalam negeri hingga mancanegara.
Dengan latar belakang lulusan dari univ swasta indonesia, anak muda ini dapat berkarya dibidang bisnis pemotretan Prwedding & Wedding  ( Pernikahan ), dengan hasil bisnis Pemotretan banyak pasangan yang ingin memakai jasanya yaitu,Mba Wullan & Mas Iwan bergaya di depan kamera. Gaun ungu yang dipakai Wullan menambah cemerlang diAcra resepsi pernikahannya disalah satu tempat dijakarta.
Mba Wullan & Mas Iwan ialah sepasang kekasih yang sedang menjalani sesi pemotretan diacara resepsi pernikahan. Untuk sesi tersebut, mereka sengaja mendatangkan tim fotografer dari Indonesia yang dikelola Hendra Pramesta. Berapa harganya?
“Sekitar Rp 6 juta. Namun itu harga paket jasa saja belum termasuk akomodasi & fasilitas tempat, sudah termasuk pemotretan prewed & wedding ditempat-tempat yang ditentukan  yang berada diindonesia,untuk jasa pemotretan dapat mengconfimasi dengan Hendra Pramesta,selama dua hari serta pemotretan untuk prewed. Pas hari-H juga ada juru kamera video , tiga fotografer, dan mini studio untuk tamu. Saya pribadi berpendapat, harganya sudah pas,” kata Mba Wullan.

Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Wulan & Mas Iwan

Harga Rp 6 juta untuk paket pemotretan pranikah dan pernikahan yang dibayar pasangan Mba Wullan & Mas Dennis menjadi sesuatu yang biasa di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia.
"Bisnis Pemotretan Prewed & Wedding"
 ( Pranikah & pernikahan )
Hendra Pramesta, fotografer yang mengelola Bisnis Pemotretan, mengaku telah mendapat setidaknya sudah banyak klien pemotretan di dalam selama setahun terakhir.
“Tren ini telah berjalan selama beberapa tahun sehingga pemotretan di dalam negri, misalnya, sudah menjadi sesuatu yang biasa. Karena itu, ada beberapa klien yang ingin bepergian ke tempat yang lain, seperti daerah-daerah yang exsotic pemandanganya yang berada didalam negri kita sendiri yaitu Indonesia.
Hendra Pramesta, pemilik perusahaan Jasa Pemotretan, mengatakan bisnis pemotretan pranikah & pernikahan memang terkadang ‘nggak kira-kira’.
Hendra mengaku menetapkan tarif US$ 400 atau setara dengan Rp 6 juta. Harga itu di luar biaya akomodasi dan transportasi yang ditanggung kliennya untuk membawa ke lokasi pemotretan.

"Perjalananya. ketempat-tempat pemotretan,bahkan saya pernah kemakasar,sulawesi palu,balikpapan,medan,bandung,puncak bogor untuk pemotretan dan pranikah & pernikahan. Satu orang saja bisa menghabiskan biaya puluhan juta dan merreka memberangkatkan empat orang. Bisa dBayangkan berapa mahal ongkosnya,"kata Hendra.

Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Wulan & Mas Iwan,Acara Adat.


Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Wulan & Mas Iwan, Acara Adat
Kue pendapatan
Manisnya bisnis pemotretan pranikah dan pernikahan tampak menggiurkan bagi kalangan fotografer. Tidak sedikit pula yang mencoba peruntungan guna mendapatkan bagian kue bisnis tersebut.
Hendra Pramesta itu mendirikan sebuah bisnis pemotretan, sejak 2008. Namun, berbeda dengan perusahaan pemotretan yang membidik kelas atas, mereka menyasar kelas menengah.
“Untuk paket dasar, di luar sewa tempat dan baju, kami menyediakan jasa pemotretan di dua tempat dalam satu hari. Hasilnya berupa tiga foto berukuran besar yang telah diedit dan 25 foto minor edit. Paket tersebut seharga Rp 6 juta,” kata Hendra.
Dari paket yang ditawarkan tersebut, Hendra mengatakan telah menggaet delapan klien selama setahun terakhir.
“Harus diingat, bahwa kami punya pekerjaan utama dan ini adalah bisnis sampingan. Untuk ukuran bisnis sampingan, ini mendatangkan pendapatan yang lumayan,” ujarnya.













Alokasi pemasukan
Setelah mendapat pemasukan, ke mana para pebisnis pemotretan menyalurkan dana yang mereka dapat?
Hendra memilih mengalokasikan sebagian dana ke berbagai peralatan , termasuk lensa dan kamera. Menurutnya, pembelian perlengkapan fotografi menguras 10%-15% omzetnya.
“Sebab, peralatan Memang mahal, tapi menjamin kualitas. Belum lagi perlengkapan untuk di studio,” katanya.
Namun, alokasi terbesar ialah pada pos jasa gaji pegawai yang dibayar setiap acara pemotretan. Untuk satu fotografer, Hendra membayar Rp 2 juta. Sedangkan pada satu acara, dia bisa memakai lebih dari tiga fotografer. Kemudian dia juga membayar jasa pendukung lainnya, mulai dari operator layar hingga supir.
Walau demikian, pesanan pemotretan yang berkelanjutan membuat pemasukan berjalan langgeng.
Bahkan, menurut Hendra, bisnisnya tidak seberapa terimbas oleh daya beli yang melemah.
“Kondisi ekonomi seperti sekarang tidak begitu berpengaruh buat kami. Nilai tukar rupiah terhadap dollar memang terasa, tapi fakta di lapangan tiada klien yang membatalkan pesanan. Malah justru bertambah,” kata Hendra.

Ekonomi lesu

Namun, tak semua pemilik perusahaan pemotretan pranikah dan pernikahan sepakat bahwa bisnis mereka sepenuhnya aman dari kelesuan ekonomi Indonesia. David Susanto, pemilik perusahaan Axioo, mengaku mulai merasakan dampaknya.
“Dampak ekonomi mulai dirasakan untuk order tahun depan, cukup berkurang. Yang sekarang kita kerjakan adalah klien tahun lalu,” kata David.
Berkurangnya pesanan untuk tahun depan, menurut David, tidak lepas dari fakta bahwa pasangan yang menikah di Indonesia dibiayai oleh orang tua.

Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Putri & Mas Pian

Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Putri & Mas Pian

Potret Karya Team Hendra,Di Wedding Mba Putri & Mas Pian






Tidak ada komentar:

Posting Komentar